![]() |
| Remaja asal Desa Saria, Rido Rustam.|| Foto: Istimewa |
Dibalik kerasnya hidup sebagai anak nelayan, seorang remaja asal Desa Saria, Kecamatan Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara menunjukkan mimpi besar bisa tumbuh dari tempat yang sederhana. Dia adalah Rido Rustam, anak kedua dari Rustam Din dan Suharni, yang kini menapaki jalan menuju dunia sepak bola profesional.
Remaja kelahiran 17 Mei 2009 ini merupakan anak dari pasangan Rustam yang berprofesi sebagai nelayan dan Suharni seorang ibu rumah tangga. Sejak kecil, ia telah tertarik pada sepak bola.
Ia menamatkan pendidikan dasarnya di SD Negeri 13 Halmahera Barat, dan kini dikenal sebagai salah satu pemain muda berbakat di posisi penyerang.
Remaja ini memang mempunyai tekad besar meraih mimpi menjadi pemain bola profesional. Mimpinya satu, hanya ingin mengubah kehidupan orang tuanya yang sehari-hari mengabdi pada laut untuk mencari nafkah. Hidup di pesisir Desa Saria, laut tak hanya teman bagi Rido tetapi juga terkadang menjadi ancaman.
Kala musim ombak tinggi, Rido selalu dihantui rasa takut jikalau ayahnya pergi melaut. "Papa biasanya kerja di laut malam dan siang hari. Saya kepikiran papa di laut bagaimana. Kadang kalau ombak lagi besar saya nyuruh papa tidak usah melaut," ujarnya, Kamis (29/1/2026).
Sementara di lain pihak, ayahnya khawatir masa depan Rido akan sama dengan dirinya. Makanya, ayahnya berpesan agar Rido rajin belajar dan mengejar cita-cita setinggi-tinggi agar tidak lagi menjadi nelayan.
"Kata papa, Rido tidak usah ikut (Profesi) papa. Rido sekolah saja biar jadi orang sukses," lanjutnya.
Pesan ini dia camkan benar-benar. Oleh karena itu, sejak kecil Rido sudah menuai beragam prestasi. Utamanya sepak bola. Ido sapaan akrabnya bilang bahwa dia berusaha keras untuk bisa menjadi pemain profesional.
Dimasa depan, Ido ingin keluarganya hidup lebih baik. "Saya ingin bikin Bapak Ibu bangga dan bahagia melihat saya sukses nanti," tegasnya.
Perjalanan sepak bola Rido dimulai dari lapangan seadanya. Desa Saria tidak memiliki lapangan resmi, sehingga anak-anak setempat memanfaatkan lahan kosong berbatu dan tanah tanpa rumput sebagai tempat berlatih.
“Kami bermain di lapangan kecil penuh kerikil. Tidak ada rumput sama sekali. Tapi dari situ banyak pemain muda lahir, bahkan sampai usia dewasa pun masih aktif bermain,” ujarnya.
Meski penuh keterbatasan, semangat warga Saria terhadap sepak bola tak pernah surut. Setiap turnamen di mana saja selalu diikuti tim-tim dari desa itu, bahkan bisa mencapai tiga hingga empat tim dalam satu kompetisi.
Rido mengenal sepak bola sejak usia dini, ditemani dukungan penuh dari kedua orang tuanya. “Papa dan mama selalu mendukung, memberi doa, dan menyemangati saya untuk terus bermain bola,” ujarnya.
Ia mengaku banyak belajar dari para seniornya – mulai dari disiplin waktu, sikap di dalam dan luar lapangan, hingga pentingnya kekompakan tim. Nilai-nilai itu menjadi bekal dalam karier sepak bolanya.
Pada tahun 2025, Rido terpilih bergabung dengan Persihalbar, sebuah pencapaian penting dalam langkah awalnya menuju karier profesional.
Tak hanya orang tua dan para senior, masyarakat Desa Saria pun menjadi penyokong semangat bagi para pemain muda. “Warga kampung selalu mendukung kami, dari usia dini sampai dewasa. Semangat mereka yang besar membuat kami ingin membanggakan desa,” tuturnya. (abd/red)


