![]() |
| Putee Samsudin. ||Dok: Istimewa |
GELOMBANG pembangunan yang pesat di Halmahera Barat dinilai belum sepenuhnya menyentuh masyarakat pesisir. Mengangkat realitas pahit yang dihadapi para nelayan tradisional di Desa Saria, Kecamatan Jailolo, pemuda setempat merilis sebuah puisi kritis berjudul "Jeritan Sunyi Nelayan Saria".
Karya yang ditulis oleh Putee Samsudin tersebut menggambarkan ketangguhan sekaligus ironi kehidupan nelayan Saria. Sebagai pemuda lokal, Putee menyoroti semangat pantang menyerah nelayan Saria yang dikenal sebagai petarung samudera sejati—yang tetap melaut bahkan di saat terang bulan penuh ketika nelayan lain memilih beristirahat.
Namun, ketangguhan itu berbanding terbalik dengan perhatian yang mereka terima dari pemerintah dan pemangku kebijakan.
Dalam puisinya, Putee menuangkan berbagai tantangan nyata yang mencekik ekonomi nelayan, mulai dari tingginya harga bahan bakar minyak (BBM), anjloknya harga jual hasil tangkapan, hingga minimnya bantuan sarana pendukung seperti jaring dan peremajaan armada perahu giop (Pajeko).
"Mereka yang menghidupi pasar dan meja-meja makan di Halmahera dan kota-kota besar justru harus berjuang sendirian. Gelar 'penjaga lautan' sering kali hanya menjadi pemanis pidato, sementara realita di lapangan menunjukkan perahu dan alat tangkap mereka dibiarkan menua tanpa uluran tangan nyata," ungkap rilis tersebut.
Melalui rilis puisi ini, Pemuda Saria berharap jeritan dan aspirasi masyarakat pesisir barat pertiwi ini dapat didengar oleh pemerintah daerah maupun pusat. Pembangunan infrastruktur dan kebijakan ekonomi diharapkan tidak meminggirkan peran nelayan tradisional yang menjadi benteng kedaulatan bahari daerah.
Berikut isi lengkap puisi "Jeritan Sunyi Nelayan Saria":
Jeritan Sunyi Nelayan Saria
Karya: Putee Samsudin
Di pantai Saria yang memeluk semenanjung Jailolo,
perahu-perahu giop bersandar lunglai di pasir kelabu.
Para lelaki berjiwa karang berdiri menatap laut lepas,
pantang surut menerjang ombak, meski nasib dihempas.
Dikenal sebagai petarung samudera yang tangguh, tak ada istilah jeda walau terang bulan penuh.
Saat nelayan lain beristirahat di balik gubuk kayu, nelayan Saria tetap mendayung, membelah angin lalu.
Namun ketangguhan itu tak bersuara di ruang pembangunan, nama desa nelayan kini meredup di balik gemerlap kemajuan.
Mereka yang menghidupi pasar dan meja-meja makan di Halmahera, tetap berjuang sendirian tanpa uluran tangan negara.
Harga minyak melambung tinggi menembus batas asa, sementara hasil tangkapan dibeli murah tanpa rasa iba.
Jaring-jaring retak bertaut benang sisa yang lapuk, di bawah atap gubuk yang kian merunduk dan terpuruk.
Bukan pada purnama mereka takut menambat tali, melainkan pada janji-janji manis yang menguap di pagi hari.
Gelar "penjaga lautan" hanya pemanis dalam pidato, sementara mata kail dan perahu mereka dibiarkan menua dan loyo.
Ketika angin laut berhembus membawa dingin malam, harapan nelayan Saria perlahan tenggelam dalam remang.
Mereka adalah tiang kedaulatan di pesisir barat pertiwi, yang dilupakan zaman, namun tak pernah lelah mencintai bahari.


